Postingan

Mengetahui Kisah Tugu Yang Berada di Hutan Tangale, Gorontalo

Jakarta - Di Hutan Tangale, tepatnya di Desa Labanu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, berdiri tugu yang diduga sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Menurut Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo, Burhanis Ramina, tugu itu berbentuk shaft dan memiliki tulisan dalam bahasa Belanda "techniche leiders" dan "uitvoeroera". Selain itu ada tulisan nama, seperti G.R Boim, S. Moha, R. Monoarfa, H.P. Olii, Z. Wartabone, I. Van Gobel, A. Wartabone, K. Datau, N.Ali, dan B. Olii. Mereka dikenal sebagai pahlawan pada masa itu. Tugu tersebut, kata Burhanis, sebagai bukti kontrak perjanjian atau kerja sama antara Belanda dan masyarakat Gorontalo. "Dari jenis tulisan, dugaan saya prasasti itu sudah ada sejak kolonial Belanda masuk di wilayah Gorontalo. Nama-nama itulah yang ikut terlibat dalam pembuatan tugu tersebut,"jelas Buhanis, Jumat (28/6). Fisik tugu, lanjut Burhanis, terbuat dari bahan beton dengan teknik cor. Agar ...

Mengenal Sosok Olly Sastra, Seorang Tokoh Penggerak Kemerdekaan di Cirebon Yang Mendapat Hadiah Dari Sukarno

Jakarta - Sosok Olly Sastra tak bisa dilepaskan dari upaya perlawanan terhadap penjajah Jepang di Kota Cirebon, Jawa Barat, dulu. Wanita bernama asli Olly Siti Soekini itu menolak keras kedatangan serdadu negeri matahari terbit itu di tanah kelahirannya. Ia berupaya aktif menjaga keutuhan negara, terlebih usai Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi. Sebagai tokoh penggerak kemerdekaan di Cirebon, Olly menyebarkan semangat heroik. Salah satunya saat ia mengibarkan bendera merah putih di Gedung Djawa Hokokai Pekalipan Cirebon, yang ketika itu menjadi markas tentara Jepang. Tak hanya itu, Olly juga banyak terlibat aktif di sejumlah organisasi seperti Partindo dan PNI. Kemudian, ia juga aktif menyuarakan aspirasi saat menjabat sebagai ketua Angkatan Muda Cirebon. Tak ayal, jasanya yang penting bagi Republik Indonesia itu membuatnya kian akrab dengan Presiden Soekarno, hingga ia pernah diberi hadiah khusus. Melansir YouTube Cirebon Heritage, Rabu (10/11) berikut ki...

Mengetahui Kisah Kedekatan Sultan Alauddin Ri'ayat Syah Al-Kahar Dengan Kesultanan Ottoman

Jakarta - Alauddin Ri'ayat Syah al-Kahar adalah Sultan Aceh ketiga yang memerintah dari tahun 1537 - 1568 M. Dirinya berkuasa setelah Sultan Ali Mughayat Syah (1514 - 1528 M) dan Sultan Salahuddin (1528 - 1537 M). Alauddin Ri'ayat Syah al-Kahar disebut sebagai salah satu penguasa terkuat dalam sejarah Kesultanan Aceh. Pada masanya, kekuasaan yang dimulai oleh ayahnya berhasil diperkuat. Selain itu, Sultan Aceh yang berhasil menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Ottoman adalah Alauddin Ri'ayat Syah al-Kahar. Awal kepemimpinan Pada masa Sultan Ali Mughayat Syah (Sultan Aceh Pertama), Kesultanan Aceh mulai melakukan perlawanan terhadap Portugis. Sepeninggalnya, tahta jatuh ke anak tertuanya, Sultan Salahuddin, di mana perlawanan Aceh terhadap Portugis mulai berkurang, bahkan hampir kalah. Menyadari situasi tersebut, Alauddin Ri'ayat Syah al-Kahar merebut tahta dari sang kakak dan memproklamirkan diri sebagai Sultan Aceh selanjutnya. Setelah r...

Kisah Akhir Dari Perjuangan Josip Broz Tito, Sang Diktator Ternama Dari Yugoslavia

Jakarta - Diktator ternama Yugoslavia, Josip Broz Tito , semasa memimpin selalu berusaha melindungi Yugoslavia dari cengkraman Uni Soviet. Dia juga berperan menjaga kesatuan federasi multi etnis di tenggara Eropa. Tapi, di titik akhir, negara yang dia perjuangkan tak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Yugoslavia, tanpa diduga terjerumus dalam perang saudara. Dilansir DW, pada 4 Mei 1980, Tito dilaporkan berada dalam kondisi kritis pasca-empat bulan dirawat di rumah sakit di Ljubljana. Sore harinya, Komite Sentral Liga Komunis Yugoslavia mengumumkan bahwa "kamerad Tito telah meninggal dunia. "Tanpa menunggu lama, stasiun televisi nasional menayangkan laporan panjang tentang kisah hidupnya. Tito dikisahkan sebagai sosok yang memimpin pemberontakan Komunis melawan invasi Nazi Jerman dan mendirikan Republik Yugoslavia pada 1945. Setelah Perang Dunia II berakhir, dia memimpin sebuah negara multi-etnis, dimana Tito mampu merawat kesatuan Yugoslavia dengan tangan be...

Cerita Mengenai kisah Saat Sang Raja Bandit India Yang Menyerah

Jakarta - Pada awal 1980-an, fotografer India bernama Prashant Panjiar melintasi kawasan tandus di India bagian tengah dan mencatat kehidupan para bandit di negara itu. Sebagian besar bandit tinggal dan beroperasi di wilayah Chambal, Negara Bagian Madhya Pradesh. Penulis pemenang Penghargaan Pulitzer, Paul Salopek, menggambarkan wilayah itu sebagai zona terlarang di perbukitan curam dan sungai berlumpur, yang dipenuhi dengan preman, perampok, pembunuh, gangster - berjuluk dacoit (sebutan untuk kelompok perampok bersenjata di India). Setelah berbulan-bulan pencarian, Panjiar dan dua rekan jurnalisnya berhasil bertemu Malkhan Singh di Chambal pada Mei 1982. Singh dikenal sebagai "raja bandit" India. Sejatinya ada sejumlah bandit lain di Negara Bagian Uttar Pradesh. Setahun lalu, Phoolan Devi, seorang bandit perempuan, menjadi terkenal karena membantai 22 laki-laki kasta tertinggi Hindu. Dia membantai para pria itu pada Hari Valentine untuk membalas pemerkosaan b...

Peristiwa Pada Tanggal 17 Oktober 1952, Ribuan Demonstran Yang Mendatangi Istana Negara

Jakarta - Protes atas situasi politik dan kinerja parlemen yang dianggap tidak becus, tentara nekat mengarahkan moncong meriam ke Istana Negara. Letnan Jenderal (Purn) Ahmad Kemal Idris tak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Tepat di hari ke-17 bulan Oktober 1952, ribuan demonstran merangsek ke arah Istana Negara, tempat bersemayamnya Presiden Sukarno . Sambil membawa poster dan spanduk, dengan garang, barisan massa berkali-kali meneriakan yel 'bubarkan DPRS'. Melihat pemandangan tersebut, Kemal yang saat itu masih berpangkat Letnan Kolonel buru-buru meminta saran kepada atasannya, Kolonel A.H. Nasution: di mana dia harus menempatkan senjata. "Ya, saudara taruh saja di depan Istana,"jawab Nasution. Maka mengarahlah pasukan panser, tank dan meriam ke arah Istana. Sementara itu di dalam Istana, terjadi dialog yang agak panas antara Presiden Sukarno dengan beberapa perwira Angkatan Darat (AD). Mereka antara lain adalah Kolonel Gatot Soebroto, Kolonel ...

Momen Saat Presiden Marah Terhadap Ibrahim

Jakarta - Dia disebut-sebut sebagai salah satu 'jenderal kesayangan' Bung Karno. Namun soal PKI, dia tak ragu bersilang pendapat dengan sang presiden hingga membuatnya 'didubeskan'. SELASA, 5 Oktober 1965. Di tengah situasi panas yang tengah melanda Jakarta pasca meletusnya Insiden 30 September 1965, sepucuk surat dari Istana Bogor tiba Wisma Yaso. Surat itu dari Presiden Sukarno untuk salah satu istrinya Ratna Sari Dewi. Selain mengabarkan kondisi dirinya, Sukarno pun memberitahu jika hari itu dia akan memanggil sejumlah jenderal yang berpengaruh di Angkatan Darat. Salah satunya adalah Mayor Jenderal Ibrahim Adjie, Panglima Kodam VI Siliwangi. "Surat itu kemudian diberikan oleh Ibu Dewi kepada Papi saat mereka bertemu di Inggris beberapa tahun kemudian,"ungkap Kiki Adjie (71 ), putra kedua Ibrahim Adjie. Bukan rahasia lagi saat itu jika Ibrahim Adjie adalah salah satu 'jenderal kesayangan' Bung Karno. Menurut Kiki, saat Si Bung Besar...